CARA MENCEGAH KETERGANTUNGAN NARKOBA

narkobaOleh: Fauziah Fatma, dr.

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat berbahaya. Selain “narkoba” istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan RI adalah NAPZA, yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif. Semua istilah ini, baik “narkoba” maupun “napza” mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan bagi penggunanya.

Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Continue reading

WHEN A SHELL MEETS A MASK

shell maskBy: Fathan Tibyan Rahman, a student at Al-Ghifari Senior High School, Bandung.

“Everybody, we have a new student today, why don’t you introduce yourself?” The teacher said as I walked in to class nervously and everybody there is staring at me like I’m some sort of alien coming from a UFO. I took a deep breath and overcame my nervousness, “Hello everyone, my name is Daya Tubagus, I moved from Indonesia because my father works here, nice to meet you all.” And after I said those sentences, everyone responds with the typical ‘hello’ and some have astonished expressions while some just don’t care about it…. Continue reading

A STRATEGY TO JUSTICE: THE ARISTOTELIAN ONE

aristoBy: M. Taufiq Rahman

Even though Aristotle[1] was Plato’s pupil, he did not agree with his teacher’s idealism. Aristotle accepts more to realism. Aristotle’s disapprovals to Plato among others are:

  1. Goodness is one and universal.[2] For Aristotle, goodness is various, like the variety of humans.[3]
  2. Goodness is metaphysical and ideal. According to Aristotle, goodness is ethical and real.[4]
  3. Plato’s conception on communism. To Aristotle, Plato’s statement “that the greater the unity of the state the better” is not realistic, since “Is it not obvious that a state may at length attain such a degree of unity as to be no longer a state?—Since the nature of a state is to be a plurality, and in tending to greater unity, from being a state, it becomes a family, and from being a family, an individual.”[5]
  4. Plato’s ideal state does not include initiatives of majority of citizens. For Aristotle, state should fulfill our capacity to think together for our interests. Political initiatives should be part of citizenship.[6] Therefore, Aristotle is more sympathetic to democracy compared to Plato.[7]

Continue reading

STRATEGI POLITIK: PEMBENTUKAN NEGARA PAKISTAN

bentuk pakistanOleh: M. Taufiq Rahman

Muslim datang ke India sebagai penakluk dan kemudian sebagai penguasa. Untuk beberapa abad, mereka adalah pemilik India.[1] Tetapi pada awal abad ke-19, mereka kehilangan kekuasaannya. Mereka tidak dengan mudah menerima Inggris sebagai penguasa mereka.[2] Umat Islam “mendapati prestise mereka hilang, hukum mereka diganti, bahasa mereka dibekukan ….”[3] Jauh sebelum kaum nasionalis Hindu mulai menentang Inggris, Muslim India sudah lama berupaya untuk mengusir Inggris di berbagai propinsi. Yang menjadi pusat perlawanan adalah di Bengal dan Patna di mana para pemimpin Muslim seperti Sayyid Ahmad Syahid mendeklarasikan India menjadi dar al-harb, atau “tempat peperangan” (melawan kaum kafir). Continue reading

TEORI POLITIK: AKTOR

IMG-20160727-WA0012Oleh: M. Taufiq Rahman

Secara sederhana, aktor politik adalah mereka yang terlibat dalam proses politik. Menurut McNair, yang termasuk aktor politik adalah orang atau individu dalam sebuah organisasi politik, partai politik, organisasi publik, kelompok penekan, dan bahkan teroris.[1]McNair juga menyebut media sebagai aktor politik.Menurutnya, aktor politik yang dimaksud adalah institusi media dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.Daan Nimmo menyebut kriteria aktor politik adalah orang yang berbicara tentang politik atau dalam setting politik, seperti politikus, profesional, dan aktivis.[2]

Ada beberapa fungsi aktor politik: Continue reading