KAMPUNG NAGA DAN DUNIA TIGA LIPATAN

IMG_20140726_051558Oleh: Sidik Permana, S.Sos., MIL.

            Bagi kaum pluralis, dunia itu bisa banyak, multikultur. Bagi kaum integralis, dunia itu satu, monistik; bahwa kita itu bersatu. Namun bagi orang Kampung Naga, dunia itu tiga: (1) kawasan suci, (2) kawasan bersih, dan (3) kawasan kotor (Suganda, 2006; Sarigendyanti, 2008). Bagaimana penjelasannya? Mari kita ikuti bagaimana orang Kampung Naga mempunyai reasoning untuk itu.

Kawasan Suci (Hutan Keramat)

Kawasan suci (hutan keramat) merupakan kawasan yang tidak boleh dikunjungi orang sembarangan. Kawasan tersebut harus senantiasa dijaga kelestarian dan kesuciannya dari pengaruh-pengaruh luar dan diawasi bersama seluruh penduduk. Kawasan yang disucikan oleh penduduk Kampung Naga merupakan bukit kecil yang berada di sebelah barat permukiman Kampung Naga. Kawasan yang berbentuk bukit kecil ini merupakan hutan keramat atau hutan biuk (leuweung biuk) tempat para leluhur mereka disemayamkan di antaranya makam Sembah Dalem Eyang Singaparna. Sebagaimana telah dijelaskan di muka, bahwa leuweung biuk dan leuweung larangan tersebut ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan keras yang sudah berumur ratusan tahun (Suganda, 2006: 27).

masjid nagaKawasan Bersih (Permukiman)

Kawasan bersih mempunyai pengertian bahwa kawasan ini terbebas dari benda-benda yang dapat mengotori kampung baik dari sampah rumah tangga maupun kotoran hewan seperti domba, sapi, kerbau dan terutama anjing, kawasan ini berada dalam pagar kandang jaga (Sarigendyanti, 2008: 11). Kawasan bersih merupakan permukiman penduduk dengan luas 1,5 ha yang terdiri dari rumah-rumah (imah), mesjid, bale patemon (tempat pertemuan), bumi ageung, dan bangunan leuit.

Rumah-rumah tradisional penduduk Kampung Naga berbentuk rumah panggung dengan bentuk arsitektur khas Sunda. Hampir semua bahan untuk membuat rumah berasal dari bahan-bahan lokal yang mudah didapat di daerah setempat. Tiang-tiang rumah disokong oleh kayu, dindingnya terbuat dari anyaman bambu (bilik), sedangkan atapnya terbuat dari daun aren dan ditutupi oleh ijuk aren (kawung). Atapnya memanjang, dinamakan suhunan panjang dan julang ngapak yang berarti burung julang mengepak (Gambar 6). Arsitektur rumah-rumah di Kampung Naga merupakan arsitektur khas rumah-rumah masyarakat Sunda pada masa silam (Iskandar, 2009: 73).

Ujung bagian atasnya dipasang gelang-gelang dari bambu. Tiang gelang-gelang terbuat dari sepasang bambu setinggi kurang lebih setengah meter dari puncak atap sehingga bentuknya menyerupai tanduk. Bambu gelang-gelang tersebut kemudian dililit tambang ijuk lalu bagian atasnya ditutup batok kelapa, sehingga terlindung dari terik matahari dan air hujan. Penduduk Kampung Naga menamakan bambu berbentuk gelang-gelang dengan istilah cagak gunting atau capit hurang, karena bentuknya menyerupai gunting atau capit udang galah yang besar.

Gelang-gelang ini tidak hanya memiliki fungsi untuk mengikat atap saja, tetapi memiliki makna tersendiri bagi penduduk Kampung Naga. Bagi penduduk Kampung Naga gelang-gelang merupakan simbol ikatan kesatuan dalam kepercayaan mereka terhadap alam semesta dengan segenap isinya, dimana matahari bergerak dari timur ke barat.  Tidak mengherankan jika rumah-rumah di Kampung Naga tidak ada yang menghadap ke arah timur, karena dianggap melanggar kodrat alam (Suganda, 2006: 45-46).

               Bale patemon merupakan tempat pertemuan, baik pada saat mereka melakukan musyawarah, maupun pada saat menerima kunjungan tamu. Bangunan ini letaknya berdampingan dengan mesjid, sedangkan leuit adalah tempat menyimpan padi atau gabah hasil panen. Bangunan  lainnya adalah bumi ageung merupakan bangunan tanpa jendela yang menjadi tempat tinggal sekaligus tempat menyimpan benda-benda pusaka peninggalan Sembah Dalem Eyang Singaparna yang dikelilingi oleh pagar dan tanaman hanjuang (Cordyline fructiosa) yang tinggi. Bumi ageung tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, kecuali seizin kuncen. Bangunan tersebut dijaga dan dipelihara oleh dua orang wanita setengah baya yang sudah tidak haid lagi (Suganda, 2006). Namun, kini orang yang menjaga dan memelihara bumi ageung bukan lagi wanita setengah baya, tetapi punduh adat.




Kawasan Kotor (Sisi Permukiman)

               Kawasan kotor adalah kawasan yang peruntukkannya sebagai kelengkapan hidup lainnya yang tidak perlu dibersihkan setiap saat (Sarigendyanti, 2008: 10). Kawasan kotor berada pada daerah yang permukaan tanahnya lebih rendah. Kawasan tersebut terletak bersebelahan dengan Sungai Ciwulan. Pada kawasan kotor terdapat beberapa bangunan penunjang dengan bentuk yang sangat sederhana antara lain pancuran air yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci serta keperluan sehari-hari lainnya, kandang ternak kambing, dan kolam (Suganda, 2006: 28). Kolam (Gambar 7) merupakan ekosistem yang memiliki banyak fungsi yaitu menampung air buangan dari pancuran, dan tempat memelihara bermacam-macam ikan seperti ikan mas, mujair, dan nila. Di sisi kolam (balong) terdapat tempat menumbuk padi atau saung lisung.

               Kolam selain memiliki fungsi sebagai tempat pemeliharaan berbagai jenis ikan, juga memiliki fungsi sebagai tempat tumbuhnya berbagai jenis tanaman seperti pisang (cau), bawang daun, kangkung, dan talas (taleus galeng). Iskandar (2009: 75) mengemukakan bahwa pada kawasan kotor terjadi daur ulang materi dan arus energi yang sangat efisien, yaitu kotoran ternak digunakan untuk pupuk tanaman atau bekatul padi yang terbuang dari saung lisung masuk ke kolam dan dimakan ikan. Sementara, produksi aneka tanaman dan ikannya dikonsumsi manusia. Dengan mengkonsumsi makanan dari berbagai jenis tanaman dan ikan, penduduk Kampung Naga memperoleh energi yang dibutuhkan untuk melangsungkan hidup.

balongLahan Sawah dan Kebun Campuran

               Sebagaimana telah dikemukakan dimuka bahwa lahan sawah dan kebun campuran (kebon) berdasarkan pandangan masyarakat Kampung Naga ditempatkan luar dari tiga kawasan (kawasan suci, kotor, dan kawasan bersih). Petak-petak lahan sawah di Kampung Naga memiliki luas yang relatif sempit.2 Sawah berada di dekat Sungai Ciwulan dan diperbukitan. Berdasarkan ketinggian tempat, lahan sawah yang berada di kaki perbukitan dinamakan sawah lamping, sementara sawah yang berada di dataran rendah dan dekat dengan Sungai Ciwulan dinamakan sawah datar. Secara khusus sawah yang berada di perbukitan dibuat teras atau sengkedan. Sistem sengkedan atau terasering system ini pada umumnya dapat ditemukan di perdesaan Jawa Barat dan dikenal dengan istilah ngais gunung, sementara di perdesaan Jawa Tengah dikenal dengan istilah nyabuk gunung.

               Dalam hal ini Soemarwoto (2004: 243) mengemukakan bahwa dengan adanya teras sawah yang mengikuti garis kontur, air di petak sawah dapat tertahan dan air dapat mengalir dengan perlahan-lahan, erosi tanah dapat terkendalikan/tertahan. Produksi sawah dapat dipertahankan pada tingkat yang relatif tinggi selama berabad-abad. Sawah dapat memanfaatkan curah hujan yang tinggi dengan cara mengurangi resiko erosi sampai sekecil-kecilnya. Oleh karena itu sawah dapat dianggap sebagai adaptasi manusia terhadap keadaan lingkungan yang bergunung dengan curah hujan yang tinggi.

               Lahan kebun campuran (kebon) di Kampung Naga berada di perbukitan dengan tofografi yang cukup curam dan ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan.3 Berdasarkan perbedaan kemiringan penduduk membedakan tata guna lahan kebon  kedalam dua tipe yaitu, kebon yang berada di lahan miring dikenal dengan istilah kebon gawir/lamping, sementara kebon yang berada pada lahan yang relatif datar dikenal dengan istilah kebon datar. Bagi penduduk yang memiliki lahan kebon gawir ketika musim hujan (usum ngijih) kerap mengeluh karena bibit tanaman tertimpa tanah longsor (urug).

               Hal ini dapat dimengerti mengingat jenis tanah di Kampung Naga adalah jenis tanah merah (latosol). Jenis tanah ini memiliki karakteristik berdebu bila kering pada musim kemarau dan memiliki daya serap yang kurang dalam menyerap air pada musim hujan. Karena itu, penanaman tanaman keras seperti kayu-kayuan dan buah-buahan yang dilakukan oleh penduduk di kebun campuran (kebon) merupakan bentuk adaptasi dalam menghadapi kondisi tanah di tempat mereka hidup. Usaha penanaman tanaman keras yang dilakukan penduduk sekaligus melindungi dan mencegah (mitigasi) permukiman dari ancaman dan bahaya longsor yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena permukiman penduduk dimana mereka tinggal berada di tempat yang rendah dibandingkan dengan lahan kebun campuran.

               Di atas telah disinggung bahwa pemilikan luas lahan sawah di kampung Naga relatif sempit. Meski lahan sawah relatif sempit, namun status pemilikan sawah bersifat pribadi/perseorangan yang diperoleh melalui warisan dari orang tua dan pembelian.

               Tidak hanya lahan sawah saja yang sempit, lahan kebun campuran pun memiliki luas lahan yang sempit. Pada umumnya rata-rata pemilikan lahan kebun campuran sekitar 632 m2 per orang. Sama halnya dengan lahan sawah, mereka memperoleh lahan kebun campuran melalui warisan dari orang tua dan pembelian.

Facebook Comments

Tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to KAMPUNG NAGA DAN DUNIA TIGA LIPATAN

  1. Sebaiknya budidayakan tanaman yang dapat menghasilkan unsur hara dalam tanah

  2. Sidik Permana says:

    Di Kampung Naga, berbekal pengetahuan ekologi tradisional mereka sudah mengelola tanaman-tanaman secara “tumpang sari” atau mixed crop di kebun campuran, tanaman famili polong-polongan (leguminous) yang memiliki fungsi menyuburkan tanah seperti petai, albasiah, petai cina, dan lain sebagainya mereka tanam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *