BAGAI KIERKEGAARD KEHILANGAN REGINA

reginaKierkegaard seorang pemurung dan kesepian. Dia terbiasa mendapatkan kemalangan di samping mencetuskan eksistensialitas.

Ya, mestinya dia terbiasa. Tapi dia malah bertambah murung terlebih setelah kehilangan Regina, tunangannya, seorang putri dari keluarga terhormat, yang ternyata oleh dia sendiri diputuskan tali cinta mereka itu.

Konyol sekali Kierkegaard yang menyatakan tak mau memiliki sesuatu karena tak pandai merawat (aku juga dulu begitu, Soren, sekarang aku memiliki, merawat, cape, tapi bahagia!) Continue reading

RODA-RODA MATIC

roda            “Sudah hentikan, jangan kau lanjutkan!”

            “Tapi aku hanya akan ucapkan terima kasih,”

            “Tak perlu itu, dia sudah tahu.”

            “Bila ku tak cerita, mana mungkin dia tahu.”

            “Dia dapat merasakan seperti halnya kamu merasakan dia mengasihimu.”

            Aku mengeluh pelan, kecewa, seperti perasaanku ketika masih kanak-kanak dulu dilarang main oleh ibu. Aku menangis waktu itu. Tapi kini aku tak bisa. Matahari garang yang kulewati dan angin serta debu benar-benar mengeringkan kantung air mataku. Continue reading