DONI

menyanyi                Aku masih mengingatnya. Dia dulu seorang penyanyi yang belum berhijab. Salah satu lagunya kuingat padahal cuma satu kali kudengar sampai saat ini (!) tapi kok aku hafal sebagian liriknya:

 “lagu ini untukmu…

seperti pintamu…

salam mesra dariku…

yang tak kan pernah melupakanmu…

lagu ini untukmu…

seperti pintamu…

sebagai gantiku…

tanda cinta selamanya.. Continue reading

UNDANGAN CINTA

undangan-cinta                Dulu, dua puluh tahun lalu, aku mengenalnya saat silaturahmi Lebaran, di rumah pamanku daerah pesisir. Habis magrib karena katanya baru sempat. Salaman dengan menyebut nama, lalu pulang dengan adiknya. Mungkin waktu itu aku kesepian ga ada teman, sehingga namanya terus terngiang.

                “Budak bageur eta mah,” kata pamanku seperti tahu aku tengah naksir.

                “Saha ih?” aku pura-pura jutek padahal ingin dengar kabarnya lebih banyak, juga jaim sehingga aku keluar. Barangkali kutemukan sisa bayangannya di rimbun pohon mangga yang menjadi samar oleh gelap. Continue reading

KELADI DI PINGGIR JALAN

keladi            Keladi, begitulah orang menyebutku. Ada juga yang menamakanku talas. Nama yang sederhana, seperti halnya cara menanamku. Aku dapat ditanam di atas pematang sawah, walau tidak seperti teman-temanku yang dimanfaatkan sebagai tumpang sari, karena umbinya yang enak. Atau aku berbetah-betah di pinggir kolam. Bagiku, tidaklah menjadi soal, asalkan cukup air untukku dan tunas-tunas sebagai cikal bakal anak-anakku. Demikian pula sekarang aku ditanam seorang petani di depan rumahnya, di depan kali, di pinggir jalan dusun Parung, Ciawi, Tasikmalaya.

Dusun Parung, itulah nama tempat tinggal kami. Untuk mengatakan “dusun”, kita sebut saja marginal, ya, biar kedengaran keren. Ya, marginal artinya pinggir, maksudnya pinggiran kota. Itu kudengar dari mahasiswa-mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN), ketika mereka sedang bercakap-cakap melewatiku. Continue reading

KOKO KOIN

koko-koin                Kasih, 12 tahun ya usia pernikahan kita… Tahun yang perlu disyukuri karena kita telah melewati 1 tahap standar, yaitu tahun ke-10. Semoga kita dapat merayakan ultah pernikahan perak kita, bahkan emas. Tapi tuk kencana aku tak berharap karena mungkin kita sudah bongkok dan kita tak berharap membuat repot anak-cucu kita.

                Selama itu aku masih tetap jadi binatu rumah ini xixixi. Sekarang ini misalnya, di tengah tumpukan pakaian, aku tertegun melihat baju koko lamamu. Masih ingat Sayang, itu dibeli dengan setumpuk koin 500-an!

                Waktu itu tahun 2003, menjelang Lebaran. Bulan apa ya? Tentu aja akhir Ramadhan he… Iya…tahun Masehinya lupa. Yang jelas lagi grand opening sebuah deptstore di Ciamis. Kita waktu itu belum punya anak, juga belum punya kerja hehe, ingin kesana dengan bekal…pinjam celengan Si Irof adik kita. Continue reading

ADRI

adry            Rasa hangat dan remangan cahaya silau dari jendela membuatku terbelalak dan bangkit. Juga orang di sampingku memandangku –yang entah bagaimana mukaku saat itu—dengan sama kagetnya. Dia turun dengan tergesa. Tentu saja menuju kamar mandi. Aku pun demikian. Hanya, aku lalu menyibakkan tirai dan membuka jendela. Aku sedang tidak punya kewajiban seperti yang ia lakukan. Uh, udara segar menerobos masuk kamar, yang baru kami tempati, membuatku betah berlama-lama menikmatinya.

            Kamar baru? Lebih tepatnya baru untuk dia, tidak untukku, karena waktu gadis, ini kamarku. Tapi dapat juga dikatakan kamar ini baru lagi untukku. Selama beberapa bulan setelah menikah, aku tinggal di pondok mertua (indah). Malu tentu, tapi bisa juga wajar, terlebih kami ternyata seperti pengisian bahan bakar di SPBU: mulai dari nol ya…ha… Continue reading