DONI

menyanyi                Aku masih mengingatnya. Dia dulu seorang penyanyi yang belum berhijab. Salah satu lagunya kuingat padahal cuma satu kali kudengar sampai saat ini (!) tapi kok aku hafal sebagian liriknya:

 “lagu ini untukmu…

seperti pintamu…

salam mesra dariku…

yang tak kan pernah melupakanmu…

lagu ini untukmu…

seperti pintamu…

sebagai gantiku…

tanda cinta selamanya..

                Aku masih mengingatnya. Dia dulu aktris dan perannya begitu meyakinkan. Cuma aku tidak ingat, tahu, dia nominator piala Vidya (?) atau tidak karena aku masih kecil dan keluarga kami belum punya televisi sekalipun yang hitam putih. Baru punya radio yang darinya kudengar lagu dia tersebut.

                Aku masih mengingatnya, waktu dia menikah, sebagai seleb dia diwawancara rumah tangga barunya. Kalo tidak salah suaminya bernama Ir. Doni, dan dia bercita-cita punya anak hafidz dan Ir. Doni tiap berkendara membiasakan diri menyimak lantunan ayat suci al-Quran dari tape mobilnya.

                Sekarang dia di hadapanku. O ya beberapa meter dari hadapanku karena aku audiens seminarnya –seminar yang dihadiri 1500 orang kata laporan panitia waktu pengantar tadi– Ceramah parenting keteladanan Rasulullah Saw. Dia yang menyampaikannya karena kini dia seorang daiyah. Dan hatiku kok tiba-tiba berujar “Suaminya bernama Doni!”

                “D o n i…” Eh, aku kok keterusan menyebut nama itu seperti pikiran yang sedang tertaut. Aku sepertinya punya kenalan juga bernama Doni, tapi yang mana?

                Ups, maaf Saudara-saudara, aku bukan mencampuraduk ‘data’. Begini, Narasumber parenting yang kali ini kutemui, kalau nggak salah, punya suami bernama Ir. Doni. Adapun aku tertegun waktu memoriku tertaut nama itu, Doni. Don yang lain, alias cuma bernama sama.

                Uh, mungkin selama dua hari memori otakku mencari dari bawah sadar satu file, dan akhirnya terdesak keluar.

                Halo Doni? Sapaku akhirnya, dalam benakku, menyapa nama yang akhirnya kutemukan. Pa kabar? Ku rasakan aku senyum yang makin lama makin lebar. Sudah jadi pejabat-kah? Aku masih ingat dulu kamu ceritakan bagaimana meraih pekerjaanmu itu dan kamu cerita sudah memiliki rumah. “Kamu tahu kenapa aku ceritakan ini?” Kamu nunduk waktu cerita itu. “Karena aku ingin kamu nempatin rumah itu,” kepalamu akhirnya tegak kembali memandangku, dan aku berlagak pilon waktu itu. Aku pilon karena terlanjur dikenal sejak ABG, aku ini bolon blo’on, ga pernah puber.

                Dan paket buku-buku referensi skripsi yang kuperlukan tiba-tiba ada sampai di rumahku dengan pengirim: Doni.

                “Aku kan tidak pesan?” jutek mukaku waktu itu.

                “Maaf, buku itu salah?”

                Tindakanmu yang salah, cuma di hati aku bilang begitu. Waktu mahasiswa aku lumayan tak begitu polos kayak bolon blo’on. Aku manfaatkan juga buku itu untuk referensi dan aku menyebut jasanya tentu, dalam pengantar skripsi, tapi tak menyebut orangnya selain kata “teman”. Teman-teman yang berjasa dalam penyusunan skripsi ha…

                Dan dia datang ke rumah malam-malam setelah hari itu aku wisuda. Ku tengok dari jendela sebelum kujawab salam orang yang mengetuk-ngetuk pintu. Terlihat bawa seikat bunga. Fuh, aku tak suka. Aku lari lewat jalan belakang, ke rumah tetangga berlama-lama sampai kukira dia sudah pulang.

                “Kamu tak memberiku kesempatan!” dia terlihat kesal waktu bertemu denganku, di tempat biasa, di tempat kerjanya, perpustakaan, saat aku mau mengembalikan buku.

                “Kesempatan apa?” tanyaku. Lagi dengan ekspresi bloon.

                Dia terlihat menahan diri.

                “O ya, kata ibuku kamu ke rumah, ya? Ada perlu apa? Kenapa ga nelpon dulu?”

                “Tiap nelpon selalu disebut ga ada. Sekalinya kamu angkat, kamu bilang sibuk.”

                “Masa sih…”

                “Yaya…”

                “Aku Raisa.” Kata-kata ketegasan kusebut namaku. Yaya itu khusus panggilan sayang keluargaku. “Aku pulang saja kalau ga ada keperluan mah,”

                “Raisa…” dia balikkan badanku yang mau beranjak. Genggam tangan kiriku. Plak! Tangan kananku jadi menampar mukanya. “Sembarangan saja pegang-pegang!” aku marah dan meninggalkannya.

                Lama aku tidak ke sana sekalipun aku masih suka baca. Aku pindah ke perpustakaan lain yang menurutku nyaman, tak diganggu aroma amor, sekalipun di luar kota. Aku penjelajah perpustakaan.

                Sampai belasan tahun berlalu, saat aku sudah banyak anak, di suatu hari aku lewat ke perpustakaan tersebut, aku tertegun, dan parkirkan motorku di tempat itu.

                “Assalaamu’alaikum, apa Pak Doni masih bertugas di sini?”

                Dan dia datang setelah dipanggilkan rekan kerjanya.

                “Hai, sudah jadi pejabat-kah?” sapaan permulaanku.

“Raisa,”

“Aku  sudah ibu-ibu, ya? Kamu juga…” Aku tak melanjutkan kalimatku yang asalnya “Kamu juga jadi peot, kurus, dan keliatan tua padahal dulu tinggi kekar, kuat menggendong aku yang terpleset jatuh gara-gara air di ubin halaman perpustakaan tergenang, dan waktu itu aku jadi sumpah serapah, turunin aku, ditampar siah!

“Berapa anakmu?”

“Aku…ga mau cerita keluargaku. Aku sendiri sekarang.”

“O ya, aku salah alamat deh,” tukasku ringan. “Aku pulang ya, kembali ke tempat kerjaku.”

“Terus untuk apa kamu ke sini?”

“Cuma ingin tahu, kamu masih kerja di sini atau sudah mutasi.”

“Terus?”
“Terus aku minta maaf,”

“Minta maaf kenapa?”

“Aku pernah nampar kamu.”

“Raisa…makasih…”

“Ok, aku pulang.”

“Raisa, aku mau lagi…”

“Mau apa?”

“Ditampar kamu,”

“Doniiiii sudah,” aku ayunkan tanganku, bukan untuk menamparnya, tapi berucap  assalaamu’alaikum, ke luar dari ruang tamu, dan aku melajukan motor dengan cepat.

Doni.

Tasik, 25 Mei 2015

Ida HA

Facebook Comments

Tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to DONI

  1. raisa maksum says:

    Lagi-lagi…Raisa. Nama saya banyak disebut. Suka ya Mbak?!

  2. arif rahman hakim says:

    Sepertinya begitu, Ambu suka nama Raisa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *