SEPATU KACA BUNDA

Kegiatan yang Bunda ikuti itu selesainya menjelang Magrib, dan semua peserta rombongannya memutuskan untuk langsung pulang. Tak lagi menginap. Ibu-ibu tersebut telah rindu keluarga. Alhamdulillah izin dan restu keluarga membuat ibu-ibu aktivis tenang dalam kegiatan yang diikutinya. Di usia kepala lima, mereka masih enerjik dan tetap berwibawa. Aset bagi mereka bahwa saatnya nanti jika berumur panjang, keluarga tak lagi berpikir mengisolasi mereka di panti jompo karena cucu dan buyut mereka lebih suka neneknya tinggal di tengah keluarga dengan cerita-cerita prestasi di masa muda yang membuat keluarganya kagum, pengalaman-pengalaman yang mengesankan, dan prediksi masa depan. Mmh… berdialektika historis.

Innalillahi… Di tengah perjalanan, mobil yang mereka tumpangi mogok! Berangkat bersama-sama, pulang pun harus bersama pula. Bunda tak enak jika exit dari rombongan dan naik umum duluan. Mereka pasrah membengkelkan dulu mobil tua yang mereka tumpangi. Untuk killing boring menunggu mobil dibengkelkan, acara ibu-ibu itu ternyata seragam. Continue reading

PROPOSAL TIA

“Bundaaaaa… Aku galau!”

“Mikirin pendamping wisuda, ya?”

“Ih Bunda ga nyambung lagi! Kan ada Bunda sama Ade,

kenapa harus orang lain yang dampingi wisuda Tia padahal Bunda yang

susah payah didik Tia, biayai Tia, dan jaga Tia jiwa raga dan doa?!”

Bunda senyum. Putrinya ini agak panjang lebar kalau bicara.

Cerminan siapa ini? “He…makasih Sayang,”

“Makasih Bunda, U’re my everything.” Continue reading

BELAJAR TERBANG

“Ade… Hp…!” Deringan ponsel yang berkali-kali terdengar karena tak diangkat oleh pemiliknya, membuat Bunda yang sedang beres-beres bergegas menghampirinya.

“Assalaamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam,” suara akhwat. “Maaf, bisa bicara sama Arif?”

“Udah berangkat dan hpnya tertinggal. Ini sama siapa, ya?”

“Saya Meilinda. Ibu mamanya Arif? Maaf Bu, saya mengganggu. Insyallah nanti saya telpon Arif lagi. Permisi, assalaamu’alaikum…” Continue reading

MENGUBUR HP II

 

Rabby… Baru saja aku akan mengubur HP, dengan “mutilasi” alias dipisah bagian-bagian rangkanya, baterainya, dsb, tapi tentu SIM-nya masih kugunakan di Hp lain, dan kucipta dialog dramatis di benakku, aku akan berkata bangga pada yang mengontak, “Ini siapa? Hpku rusak nyemplung ke ember waktu mandiin anak.”

“Kok sampe nyemplung gitu, Bunda?”

“Iya waktu mandiin de bungsu…” Duh…kesannya jadi bunda sepenuh jiwa aku, padahal biasanya yang mandiin anak-anak Bapaknya! Kecuali nanti, klo anakku putri, baru aku yang mandiin. Dan tambahan blablabla lagi penjelasan tak penting soal hp butut tapi membuatku lega. Continue reading