PEREMPUAN DAN GERIMIS

Siang kemarin gerimis. Seorang perempuan duduk di bangku panjang sebuah taman, mendekap handphone yang dari kejauhan saja kita bisa menebaknya, tema pembicaan kemungkinan besar adalah cinta. Sebab wajahnya gelisah. Meski wajahnya kulihat tak lagi muda tapi kegelisahannya itu indah. Dan apa lagi yang membuat bisa indah selain cinta? Wajahnya sesekali tengadah ke langit, seperti cemas, mungkin takut kehujanan, tapi tak kunjung beranjak. Malah senyum seperti penuh harapan. Indah betul, di tengah gerimis pula. Aku memotretnya!

Tapi aku tahu perempuan itu memiliki dan telah dimiliki cinta. Waktu halal bil halal bulan-bulan lalu, dia didampingi suami lengkap dengan anaknya yang kucu-lucu. Hanya…masa aku langsung melabrak orang yang tak dekat denganku berdasarkan dugaan-dugaan? Apa kata dunia atas intervensi urusan orang?! Terutama karena masih praduga. Continue reading

TARIAN DI BAWAH BULAN

“Ga ada suguhan buat kamu…”

“Aku bukan arwah yang harus dikasih sesajen”
“Selain musik ini… ayo, mau ngopy sendiri ke flashdisk ato dibluetooth?” Dan ternyata kedua cara tersebut kulakukan. Ya dibluetooth ke hpku, ya flasdisk tuk notebookku. Dia, adikku, ternyata masih ingat kesukaanku pada musik itu, juga camilan favoritku yang katanya ga ada suguhan buat aku. Musik itu selalu menemaniku saat kerja di kantor, di rumah, dari menjelang tidur sampai begitu bangun tidur. Moon dance, Kitaro.
Saat kecil aku suka bulan. Masa kecilku yang pisah tinggal dengan orang tua karena aku beradik banyak membuatku lebih membayangkan di bulan itu ada bidadari tanpa kerepotan punya banyak anak karena di bulan dijamin Tuhan tuk bahagia. Continue reading

KACA YANG TERGORES

Entah kenapa, barusan di persimpangan jalan waktu aku berpapasan dengan temen almarhum papa, kali ini kok terbayang satu kelakar mereka yang membuat mama marah.

Teu kabayangkeun mun sayah ta’adud, kumaha ngimahanana? Nu aya ge imah teh can lunas ti mimiti meuli tanah, ngawangun, mager, ngaluis…hih teu anggeus-anggeus!” kudengar itu yang dirumpiin papa dengan teman-temannya sambil ngopi saat aku dipanggilnya tuk membawa asbak, dan setelah kumpulan bubar, mama marah!

“Tak beradab!” itu kata-kata khas mama jika marah besar. Mama selalu marah jika papa merokok di dalam rumah (makanya tak pernah disediakan asbak) tapi menurutku teman-teman papa yang tak beradab itu. Tau ga ada asbak dan sama si bungsu ditempel poster “dilarang merokok dalam ruangan ini” tetap aja mereka melenyun dan waktu itu papa yang biasa takut sama mama (hahaha) jadi terseret arus! Continue reading

HAJJAH ALIYAH NGEBUT

Apa yang salah jika orang pas-pasan seperti aku ibadah haji? Emang PNS golongan bawah (dan bukan guru yang dah sertifikasi, lagi) seperti aku dan tidak punya PSH (Penghasilan Sampingan yang Halal) secara matematik bisa diaudit siapapun. Tapi prinsipku seperti halnya waktu kuliah, bukan karena punya uang untuk biaya, bukan karena beasiswa yang melimpah…ya alhamdulillah sih beasiswa ada tuk biaya kuliah tapi biaya hidup dan buku, Allah memberi rizki dari jalan lain sehingga aku sepertinya punya beberapa orang tua asuh yang tak terikat. Silaturahmi kepada senior organisasi jika ingin ikut kegiatan bagus, ke dosen tuk pinjam buku karena lebih lengkap koleksi dosen dari pada perpustakaan, dan bahkan ngeprint tugas di sekretariat organisasi merupakan cara supaya survive. Yang penting halal dan tidak mengikat. Continue reading