BOLIVIA (Bojong Limus via Al-Huda)

Oleh Ida Hidayatul Aliyah

 

Aku bergegas pada kerumunan teman-teman guru. “Siapa yang meninggal?” tanyaku saat terdengar dari kejauhan kata ”ngalayad” yang diobrolkan mereka.

Rakana Pak Deden, Bidan Nenah, kenal?”

“Ya,” aku mengiyakan untuk sementara untuk menyingkat pimbicaraan dengan damai, walaupun belum kenal, karena jika dikatakan tak kenal, tidaklah tepat tuk pancakaki.

            “Barudak tos dipasihan tugas? Hayu angkat!” Wakil kepala sekolah mengomando.

Ada rasa waas selama iringan mobil menuju rumah duka. Waas bukan karena suasana yang kami alami tapi aku seperti kenal dengan arah jalan yang sedang kami tuju. Dan aku hampir sesak nafas ketika rumah yang dituju telah sampai.

“Ini rumah Bidan Nenah?” tanyaku.

“Iya, Bu Fitri waktu ngimunisasi anak ke sini?”

Aku cuma senyum sementara hati melanjutkan bicara sendiri. Jadi rumah ini dijual ke rumah Bidan Nenah? Pemilik lama ke mana?

“Hayu, Bu!”

Pojok ruangan sebelah sana asalnya meja kecil tinggi dan di atasnya bunga matahari, hatiku masih mengenang-ngenang. Dan Bidan Nenah (atau suaminya) menggantinya dengan lukisan perempuan desa pake kemben? Nyeni juga Bidan Nenah. Pasti lain dengan tempat prakteknya yang banyak terpampang poster imbauan agau bayi dan ibu balita sehat. Lalu di mana bunga matahari yang dulu kutata?

Hayu, Bu, kita masih sempat tuk nyolatin!”

“Okey,” aku bergerak ke belakang untuk wudlu karena kukira kamar mandinya tidak akan pindah tempat. Dan memang tidak, hanya tampilannya yang berubah karena dulu baru selesai dibangun, masih berupa tembok sederhana tuk penyekat kamar mandi dan tempat cuci pakaian, dan sekarang dipermak kamar mandi gaya hotel berbintang. Dan pertanyaan ini masih mengganggu: dimanakah pemilik rumah ini sebelumnya? Pindah ke mana? Mengapa rumah ini dijual?

Sampai selesai sholat, berbela sungkawa, dan berpamitan, aku masih larut dengan kenangan lama terlebih teringat pemilik rumah sebelumnya yang tak muncul-muncul.

Aku memanggil pemilik rumah itu A Asep, seperti juga adik-adiknya. Kami kenal di madrasah Al-Huda, tempatku mengajar adiknya, dan kami bertemu sekilas saat dia menjemput adiknya pulang bulanan. Dan mungkin dapat ditebak kelanjutannya, A Asep jadi sering ke Al-Huda meski tak ada jadwal penjemputan dan tiba-tiba saja rapat sekolah yang biasanya dihadiri orang tua menjadikan A Asep sebagai penggantinya untuk Nevi, sang adik!

“Aku ingin menikahimu tapi mantan istriku seperti menggugatku,” katanya serius, yang tak kukira itu pertemuan terakhir dengannya.

“Menggugat apa?” kutanya dengan datar. Entah karena meski telah lama bersama tapi aku belum merasakan perasaan dahsyat padanya. Mungkin efek berkali-kali gagal menjalin hubungan dengan pria, perasaanku begitu sulit “mencintai seseorang secara besar-besaran”, dan puncaknya aku berdoa letih kepada-Nya, “Engkau saja yang menuntunku, Engkau saja yang pilihkan, karena berkali-kali aku memilih, Kau tak berkenan juga.”

Ya, saat itu aku menyimak saja apa yang dituturkannya untuk disampaikan kepada orang tuaku yang semula mereka tersedu saat kukatakan A Asep seorang duda. Mereka tersedu membayangkan aku yang belia dan menurut mereka high quality (siapa sih yang tak bangga pada anak sendiri meski kukira prestasi yang kudapat biasa-biasa saja) bersanding dengan duda meski masih muda dan tanpa anak. Tapi kelanjutan pernyataannya tak juga muncul selain helaan nafas yang sepertinya berat.

Cukup lama tak ada kontak setelah pertemuan yang diakhiri helaan nafas berat itu. Sampai akhirnya datang sepucuk surat yang dititip kepada temanku. Berisi print out asli hasil test laboratorium, “infertil” dan surat pernyataan maaf hubungan tak bisa berlanjut karena dia menyadari, betapa anak adalah sesuatu yang sangat berharga bagi keluarga, bahkan dia bercerai dengan istrinya karena telah sekian lama belum punya anak, di samping perilaku yang mengganggu tentu, yang sebelumnya disampaikan secara lisan-dengan sepihak. Dia pun mengatakan dalam surat, gangguan mantan istrinya itu agar dia pun memeriksakan diri ke laboratorium dan tidak hanya dirinya. Dia tidak sejak dulu memeriksakan diri karena merasa hal itu tak mungkin karena dia lahir dari keluarga besar dan saudara-saudaranya beranak banyak pula.

“Bisa jadi, mereka jadinya rujuk,” prediksi temanku yang turut membaca surat.

“Mungkin,” responku dengan helaan nafas, meski tak ada kesedihan padaku atas perpisahan itu, tak ada rasa kehilangan arah meski beberapa bulan terakhir aku –sesuai permintaannya– hilir mudik sepulang mengajar ke rumah A Asep di Bojong Limus itu. “Mama kan akan jadi pemilik rumah ini, dirawat dong,”

“Kiri….! bye bye Al-Huda…” aku spontan teriak di tengah laju mobil yang membawa kami ke sekolah.

“Apa Bu Fitri?”

“Itu Al-Huda, tempatku mengajar dulu…” tunjukku pada madrasah yang telah dilewati.

“O ya?!” respon temanku.

“O ya… Al-Huda, I’m in love…?!” temanku yang lain menggodaku asal-asalan dan kebetulan mengena.

Ha…ha…

 

Tasik, 25 Nov 2016

ambuidahidayatul@gmail.com

 

Keterangan:

Raka                = Kakak

Pancakaki        = runtutan silsilah

Barudak tos dipasihan tugas? Hayu angkat!  = Anak-anak sudah diberi tugas? Mari berangkat!

Facebook Comments

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *