DILARANG CINTA TANPA LIHAT KTP

Sumpah, sampai setua ini…aku tak tertarik pada pria PNS! Salah satu alasannya karena akupun PNS sedangkan aku ingin pasangan hidupku membawa warna baru. Terus, aku juga ga mau nikah dengan guru karena aku pun guru. Bagi aku, kurang seru deh kalo di dunia yang sama. Aku ingin ada perbedaan biar bercorak! Jadi…gitu lha ya…selama ini aku tak tertarik pada pria PNS, tapi ini pengecualian! Aku juga tak tertarik pada Pak Guru tapi ini pengecualian! Serta…selama ini aku tak pernah punya pacar ganteng tapi ini pengecualian! Lihat, lihat, ini fotonya! Astaga…lumayan heboh, puber keberapa ini? Curhatku pada Unie, soulmateku, yang kami namai gank kami sebagai “The HOT mama”. HOT sendiri akronim dari “Hebat O o oow… Tangguh” lah…

“Jangan mulai lagi!” responnya.

“Ih…sirrik!” aneh, debat tak penting kayak ABG itu terjadi dan perilaku ABG pun terulang, nyanyi-nyanyi first love Nika Costa pula! Si tengah yang kelas 3 SD dan si bungsi yang TK pun mendelik.

“Ketemu di mana? Jangan-jangan cuma cinlok!”

“Mulanya bisa aja gitu, tapi ini kayak Si Abah dulu. Tau kan kisah Cinderella, aku juga punya?! Dimana abah yang baru kenalan sore hari, malamnya datang ke ortu dan menggagas komitmen?! Ini juga sama…” aku sok yakin. “Ini jodoh yang dikirim Tuhan dari bintang!” lebay pula.

“Kamu publikasi?”

“Ga sevulgar itu donk, tapi ya beja mah teu bisa disumput-sumput. Dia ujug-ujug mendekat dan ngajak komitmen. Indah, merayu, ganteng, ga merokok, ga ngopi, candidat doktor, dan…pejabat.”

“Katanya guru?”

“Ya asalnya guru tapi pindah ke struktural. Makanya aku suka. Boleh kaan…boleh kan, Nie?” Dan jadilah keintiman sama Queen Unie meningkat walo tentu saja cuma dengan hp. Oh berjasanya hp. Si mungil yang mengasyikkan. Hp sejuta rasa!

Singkatnya, kami lagi pe-de-ka-te. Posesif, selalu sms: lagi apa, di mana, dan sama siapa?

#

“Aku dan suamiku dulu, kenalan sampai menikah, tanpa sentuhan.” Itu di antara ucapanku tuk menegaskan identitas.

“Jadi pasangan shaleh-shalehah, ya? Tapi kok bisa cerai?”

“Kamu sendiri guru PPKN penjaga moral, kenapa cerai sama istrimu?” nadaku menaik.

“Kan aku dah bilang…ga cocok lagi. Kamu?”

“Ya, aku juga dah ga cocok lagi,” Dan bla bla bla. Perbincangan yang kayak interview, namun ada yang kurang sreg di hati waktu iseng kutanya, kamu menyiapkan segala sesuatu sendiri, bangun jam berapa?

“Jam lima.”

“Jam berapa?”

“Eh, setengah lima…”

Ah, aku mendesah di hati, duh, nambah kerjaan, padahal aku sudah ingin dibangunkan oleh suami tuk tahajud, dan suamilah yang harus menggiring anak-anak kami ke masjid waktu shubuh.

“Udahlah Mama… Kita ngomong masa depan kita nanti. K-I-T-A mau punya anak berapa?”

Deg, ceuk Sundana mah aya nu neumbrag hate. Inget dulu pernah komitmen dengan Si Abah bahwa cukup punya 3 anak, juga itu permohonanku pada Allah saat melahirkan anak ketiga dulu, ‘Ya Allah, cukuplah 3 anak bagiku meskipun semua laki-laki…’ sehingga pas mengandung anak keempat jadi keguguran.

“Mama… Denger kata-kata Papa ga seeh?”

Hih, panggilan itu! Aku pernah iseng nanya anak-anakku, “Jagoans, bersediakah kalian manggil Mama ke Ambu?” Jawaban mereka serempak: “Geuleuuuuh!!!”

Dan egoku terusik. Orang itu mengusik lebah dan insting animal sang lebah jika terusik dan terganggu, dia akan mengejarnya!

“Aku, OTW Bandung.” Smsku.

“Sama aku juga,” balasnya. Dan chating dengan sms pun tak berhenti. Sms ini belasan kali kuterima: Sudah sampe mana? Aku di sini.”

“Hujan ya, tapi kamu bisa terbang kan tuk temui aku? Sebab aku pertama kali menduga kamu dikirim Tuhan dari bintang.” Smsku yang terkantuk-kantuk ketiduran di jalan, dengan pegang hp. Nah, ini di luar kontrol. Tapi kata-kata itu tak bisa diralat.

Dan pertemuan itu ada. Mengalir, tapi ada yang kutahan. Sebab aku berpegang pada norma. Katanya aku kaku dan menjaga jarak. EGP lah, ini upayaku menjaga diri. Dan puncaknya aku menanyakan KTP! Hahaha… seumur hidup, aku ga pernah kayak polisi yang curigai orang sehingga ingin lihat KTP nya. Sumpah, ga pernah. Dulu lihat KTP suami aja waktu ngurus-ngurus adm pernikahan. Tapi entah ide dari mana aku ingin lihat KTP dia dan saat itu dia bilang ga dibawa.

Aku curiga, apa benar dia ga bawa KTP? Atawa jangan-jangan alasannya saja. Jangan-jangan nama aslinya bukan yang diakui selama ini, atawa umurnya sudah sepuh, atawa status di KTP yang disembunyikan. Benar-benar ga mengerti karena barusan kami makan, dia yang bayarin, entah pula KTP nya ga ditaroh di dompet. Tapi aku sepertinya punya alibi untuk memutuskan: dilarang jatuh cinta tanpa lihat KTP!

Lalu apa artinya kebersamaan yang tercipta selama ini? Aku menamainya sebagai benih cinta-baru yang belum ditumbuhkembangkan. Mungkin juga tidak akan.

 

Bandung, 28-11-2014

Ida HA

ambuidahidayatul@gmail.com

Facebook Comments

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *