SEORANG TAMU

Oleh Ida Hidayatul Aliyah

 

I

“Rasanya aku kedatangan tamu,”

“Aku masih dianggap tamu?”

“Tentu saja, wahai Orang Asing,”

“Sampai kapan aku tak dianggap tamu?

 

II

“Aku kedatangan tamu lagi.”

“Mau ikut bedah buku?”

“Sepertinya tidak.”

“Untuk partisipasi?”

“Tak bolehkah aku punya pilihan sendiri, selera sendiri?”

III

“Malam tadi aku melihatmu dalam mimpi baca puisi-puisi Sutardji.”

“O, begitukah?” aku tercengang karena bermimpi sama. Entah pula dia cuma mengarang-ngarang. Firasatku mengatakan, orang dekat kadang tahu jalan pikiran dan kemauan orang yang dihadapinya maka muncullah rekaan dalam kata-katanya. Entahlah, hanya Tuhan Yang Tahu dan aku lebih baik percaya pada Tuhan saja yang semoga DIA mengilhamkan padaku melalui “firasat”.

“Aku menafsirkan, masa penulisan buku terbentang di hadapanmu.”

“Tapi dalam mimpiku, untukku naik panggung kok perlu microphone berkabel yang panjang sekali. Akan begitukah kenyataannya?”

“Terima kasih, kamu bersedia ceritakan mimpimu.”

“Hah?” aku tersadar dan bengong.

IV

“Kau lagi, Tamuku? Ada lagi yang harus kujelaskan?”

“Terima kasih dengan ‘ku’-nya. Aku dimiliki sekarang walau sebagai tamu.”

“Ngomongnya kemana-mana. Aku menyesal jika ada yang melenceng dari jalur.”

“Akankah sekaku itu? Beri ruang dulu sedikit,”

…………………………….

Aku menghela nafas panjang. Kata-kata yang kudengar barusan sungguh klise!

“Dan kau biasanya di posisi orang kalah!” Hatiku mengejek. “Kau menolak tapi kemudian merasa kehilangan, atau pasang muka BT (Butuh Tatih tayang) jika ketemu: “Lama banget, sih, aku kangen!” Pasti, pasti begitu! Dan roman pun terjadi, sampai mungkin jenuh.

 

V

“Kau tahu kenapa hati kita terayun? Karena tak ada mitsaqan ghalizha,” aku mulai berkhotbah ketika mendengar dia curahkan perasaannya. “Karena tak ada ikatan yang kuat. Kau, mau nikah denganku?”

Biasanya laki-laki yang kutanya akan terkejut, sangat-sangat terkejut. Bisa jadi karena egonya terusik karena seharusnya (siapa yang mengharuskan?) laki-laki yang bertanya itu pada perempuan.

Kau tercekoki budaya lama, Bung! Budaya baru mengajariku bertanya lugas, apa arti hubungan laki-laki dan perempuan dewasa! No function no be.

Dan ketika mereka enggan, kau menyebutku kalah! Aku membalikkan pernyataanku pada Si Hati yang mengejek tadi. Padahal itu upayaku melindungi diri sendiri. Jika bukan aku, siapa lagi yang melindungi diriku?!

“Aku… sudah beristri,” katamu terbata.

“Dan masih mendekati anak gadis orang?” Gadis yang berumur, lanjutku dalam hati.

“Kenapa kamu tak tanya pada mula kita kenalan?”

“Apakah pertanyaan lucu itu perlu?”

“Bisakah beralih ke topik lain?”

“Ha, menghindar. Aku tahu kelanjutan kisahnya. Aku penulis cerpen,”

“Suatu saat kamu akan menulis novel. Pasti, pasti. Bisakah beralih ke topik lain.”

“He, ngomongin kepenulisan, itu topik pengalihan. Kita sekarang sedang berinteraksi profesional.” Aku telungkupkan telapak tangan pada muka tanpa sadar. Barangkali hal itu mengurangi kegelisahanku, dan puncak kegelisahanku adalah mencari-cari puisi dalam handphoneku.

Prometheus

(buat seorang perempuan asing yang kuantar ke pelabuhan

semula karena selama beberapa hari bersama, kami menjalin

affair tak menjanjikan)

 

di pelabuhan yang dikepung melankoli –di antara bau

bacin dan cemas kecopetan—kulepas kau ke negerimu

di utara. kucium pipimu kiri-kanan; angin berkesiur di

telingaku. kutepuk pundakmu; angin menggerai

anak-anak rambutmu.

 

“aku suka negerimu. tapi aku

tak ingin tinggal. aku takut harus memeluk satu

agama, dan percaya bahwa surga ada di akherat. aku

ingin kembali ke negeriku.

tempat surga sedang dibangun,” katamu.

 

di sudut pelabuhan, tertambat sebuah peti kemas;

tua dan kesepian. di rusuknya ada tulisan berkarat: navieras

de puerto rico. mungkin pengangkut rempah-rempah,

atau budak, apa bedanya, semua bangsa rasanya telah

menjelma penjajah di kepalaku.

 

juga laut di depan mataku, seperti

kemaluan seorang pelacur; menganga dilayari

kapal-kapal dan lelaki-lelaki ke negeri-negeri

jauh.

 

“ikutlah ke negeriku,” bujukmu.

“di sana –bahkan setelah tua sekalipun, di setiap akhir

tahun—kau masih dapat jadi sinterklas, membayangkan

dirimu naik kereta salju yang ditarik kijang bertanduk

panjang dan menipu ribuan anak-anak.”

 

tapi kapal meraung seperti monster kesakitan itu

telah membawamu. seperti kau, aku tak melambai. tak

ada yang hilang apalagi kosong di dadaku.

 

 

aku hanya tiba-tiba merasa ingin seperti nuh: menjadi

satu-satunya nakhoda yang berlayar di atas bumi

yang tenggelam

 

(Makassar 1998. Aslan Abidin dalam Horizon 35/8/2000)

 

“Engkau… tetap tamu.” Aku senyum setelah baca puisi.

 

 

Garut, 22 Oktober 2016

ambuidahidayatul@gmail.com

 

Facebook Comments

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *