UNTUKMU

                Aku menimang buku –novel—setebal 400 an halaman itu. Kusebut buku karena bentuknya tidak seperti kemasan novel yang 20 centi-an. Ini lebih tinggi, lebih tebal. Orang akan menyangka buku tersebut jurnal ilmiah andai saja tidak ada tulisan di cover “novel filsafat”.

“Ini akan kuberikan untukmu,” kataku memasukkan novel itu ke dalam tas yang akan kubawa. Mungkin akan cocok buatmu, ga kayak aku yang pusing membacanya dan ga tamat-tamat. Aku cuma tertarik buku itu karena 20 tahun lalu waktu masih kuliah, judul buku itu disebut-sebut seniorku yang sekarang menjadi dosen filsafat. Tahun kemaren aku temukan buku itu. Buku yang telah berumur dengan kertas yang telah menguning kubeli tanpa proses tawar-menawar karena aku menghormati buku tersebut dan menganggapnya artefak yang baru ditemukan sejarawan.

Dan pertemuan denganmu tiba.

“Aku punya oleh-oleh buatmu,” kusodorkan buku itu.

“Waaah? Apa aku cocok membacanya? Ya…ya…ya…aku pernah baca manusia yang sejak bayi hidup di tengah serigala tapi toh di akhir cerita dapat menemukan Tuhan. Dan buku ini mengisahkan manusia dalam asuhan rusa?”

“Ya!” aku tukas dengan semangat karena merasa direspon.

“Dan kau, telah menemukan Tuhan juga rupanya?”

“Mukaku dengan barutan luka…itu dilukai sejarah hahaha…”

“Ga tampak bekas luka.”

“Luka terbakar matahari iya,”

“Ga tampak,”

“Ada bekas benang layangan di atas bibir dan pipi sehingga dulu kayak kumis kucing bikin prihatin orang-orang yang liat.”

“Mana? Ga ada,”

“Sorry,” aku ke motorku di parkiran meyakinkan apa yang dikatakannya. Sekian lama aku memelototi spion sampai terdengar langkah mendekat.

“Ga ada, kan?”

“Dulu ada, kok,” aku terkesan bingung.

“Waktu menyembuhkan luka.”

“Iya kali, eh salah, Tuhan yang sembuhkan luka!”

“Syukur atas kesadaran ini. Ini yang membuatku pangling padamu. Dulu kamu pemalu, penyendiri, menyendiri di perpustakaan, gemeteran ngomong di depan kelas…”

“Ya, nilai khitobahku enam, lagi. Ada di rapor juga hahaha… ga nyangka, beberapa tahun kemudian aku jadi juri lomba pidato SMA.”

“Sekarang drastis banget,”

“Organisasi yang membuatku begini. Dan aku kenal organisasi setelah aku mengajar. Dalam mengajar aku punya misi ingin menemukan metode yang tepat, dimana kita sebagai pembelajar bukanlah didoktrin guru! Di organisasi juga aku mengasah diri.”

“Bukan organisasi, tapi Tuhan menjadikanmu baru. Dia memperbarui ciptaan-Nya.”

“Sekarang kesadaran atas kuasa-Nya Tuhan nular ke kamu,”

“Hahaha…”

“Oke Kawan, aku pulang sekarang, takut kehujanan.”

“Aktivis takut hujan he…”

“Infanteri ya, lain dengan kavaleri,”

“Kamu ke sini sendirian?”

“Ke luar kota pake motor sendirian juga dah biasa,”

“Drastis lagi!”

“Ini bagian dari berdekatan dengan Tuhan. Di perjalanan, aku juga ketakutan apalagi kalo kemalaman, hujan, dan tujuan masih jauh. Ngeri. Itu sebabnya begitu sampai di tujuan aku tersungkur sujud syukur atas penjagaan-Nya sehingga aku selamat.”

“Tentu bukan serigala atau rusa yang ngajarin itu, ya?!”

“Bukan pula manusia. Maksudku orang-orang atau guru-guru yang kutemui tidak mengajariku sujud syukur saat perjalanan sampai di tujuan.”

“He…”

“Aku pulang, oke?!”

“Oke…” dia menghembus nafas.

“Hei, kenapa kayak berat gitu?”

“Aku ingin novel tulisanmu buatku itu.”

Lambat-lambat aku mengangguk, karena juga merasa berat. Bisakah aku?

Ciamis, 24 Des 2015

Ida HA

 

Facebook Comments

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *