IBU MAU JEMPUT KITA PULANG

“Ada sajadah panjang terbentang dari kaki buaian sampai ke tepi kuburan.

Selama ini kita mencari rezeki, mencari ilmu, mengukur jalanan seharian.

Begitu terdengar suara azan, kita kembali tersungkur di kaki-Nya.

Dan selalu begitu. Variasi agenda kita sekedar interupsi…”

(disadur dari “Sajadah Panjang” Bimbo)

 

 

Tetapi mencari rezekinya kita ternyata tak sama dengan binatang. Binatang boleh mencakar bila berebutan, kita tidak. Meski lelah kita dituntut tetap senyum dan saling sapa. Meski bersaing caranya harus cantik. Meski lapar kita tak boleh berang. Continue reading

IBU GURU KAMI

 

“ibu guru kami pandai bernyanyi…

                Pandai bercerita asyik sekali…

                Kami dibimbingnya dengan setulus hati…

                Jadi orang berguna di kemudian hari…”

 

 

Kukenal sejak kecil lagu itu dan masih hafal. Sampai sekarang aku terkesan dengan lagu itu yang menggambarkan seorang guru idola muridnya. Dulu waktu aku mengajarkan kembali lagu itu pada anak Taman Kanak-kanak, aku membayangkan, mungkin ibu guru maha idola adalah yang pandai bernyanyi, menari, puisi, bercerita, menulis, berdakwah, ngemsi, pemateri seminar, aktif di masyarakat, bisa membuat aneka keterampilan, masaknya enak…cantik…disukai murid karena baik dan cara mengajarnya mudah dipahami. Continue reading

UNTUKMU

                Aku menimang buku –novel—setebal 400 an halaman itu. Kusebut buku karena bentuknya tidak seperti kemasan novel yang 20 centi-an. Ini lebih tinggi, lebih tebal. Orang akan menyangka buku tersebut jurnal ilmiah andai saja tidak ada tulisan di cover “novel filsafat”.

“Ini akan kuberikan untukmu,” kataku memasukkan novel itu ke dalam tas yang akan kubawa. Mungkin akan cocok buatmu, ga kayak aku yang pusing membacanya dan ga tamat-tamat. Aku cuma tertarik buku itu karena 20 tahun lalu waktu masih kuliah, judul buku itu disebut-sebut seniorku yang sekarang menjadi dosen filsafat. Tahun kemaren aku temukan buku itu. Buku yang telah berumur dengan kertas yang telah menguning kubeli tanpa proses tawar-menawar karena aku menghormati buku tersebut dan menganggapnya artefak yang baru ditemukan sejarawan. Continue reading

SEORANG TAMU

Oleh Ida Hidayatul Aliyah

 

I

“Rasanya aku kedatangan tamu,”

“Aku masih dianggap tamu?”

“Tentu saja, wahai Orang Asing,”

“Sampai kapan aku tak dianggap tamu?

 

II

“Aku kedatangan tamu lagi.”

“Mau ikut bedah buku?”

“Sepertinya tidak.”

“Untuk partisipasi?”

“Tak bolehkah aku punya pilihan sendiri, selera sendiri?”

Continue reading

DILARANG CINTA TANPA LIHAT KTP

Sumpah, sampai setua ini…aku tak tertarik pada pria PNS! Salah satu alasannya karena akupun PNS sedangkan aku ingin pasangan hidupku membawa warna baru. Terus, aku juga ga mau nikah dengan guru karena aku pun guru. Bagi aku, kurang seru deh kalo di dunia yang sama. Aku ingin ada perbedaan biar bercorak! Jadi…gitu lha ya…selama ini aku tak tertarik pada pria PNS, tapi ini pengecualian! Aku juga tak tertarik pada Pak Guru tapi ini pengecualian! Serta…selama ini aku tak pernah punya pacar ganteng tapi ini pengecualian! Lihat, lihat, ini fotonya! Astaga…lumayan heboh, puber keberapa ini? Curhatku pada Unie, soulmateku, yang kami namai gank kami sebagai “The HOT mama”. HOT sendiri akronim dari “Hebat O o oow… Tangguh” lah…

“Jangan mulai lagi!” responnya.

“Ih…sirrik!” aneh, debat tak penting kayak ABG itu terjadi dan perilaku ABG pun terulang, nyanyi-nyanyi first love Nika Costa pula! Si tengah yang kelas 3 SD dan si bungsi yang TK pun mendelik. Continue reading