BUKU ANTROPOLOGI PERDESAAN

Judul buku “Antropologi Perdesaan & Pembangunan Berkelanjutan”, penulis: Sidik Permana, S.Sos., M.I.L. ISBN : 602401594-7, penerbit Deepublish, Yogyakarta. Uk. B5 (17.5×25 cm) Hal : XVI + 207. Buku Antropologi Perdesaan dan Pembangunan Berkelanjutan ini memiliki topik yang menarik untuk dibahas. Berbagai kalangan masyarakat masih banyak yang memandang keliru bahwa kebudayaan dan gaya hidup tradisional yang masih mendominasi penduduk perdesaan dengan dilandasi kuat oleh pengetahuan ekologi tradisional tentang lingkungannya, serta memiliki modal sosial yang baik alih-alih dimanfaatkan malah diabaikan dan dianggap sebagai penghambat pembangunan. Buku ini sangat bermanfaat guna memberi wawasan pada masyarakat sebagai upaya memahami kebudayaan penduduk untuk dapat dimanfaatkan dalam berbagai program pembangunan……..”

PROSES TRANSISI DEMOKRASI

muslimOleh: Dr. Muslim Mufti, M.Si.

Menurut Gerry van Klinken, demokratisasi melalui tahap-tahap atau bergerak dari pembusukan rezim otoriter, melewati masa transisi, menuju konsolidasi, dan akhirnya menuju pematangan.[1] Proses transisi demokrasi menurut Gabriel Almond, Scott C. Flanagan, dan Robert J. Mundt selalu ditandai oleh “menurunnya komponen-komponen kinerja ekonomi (depresi, pengangguran, kekurangan pangan, dan kelaparan).”[2] Transisi yang menurut O’Donnell merupakan “interval waktu antara satu rezim politik dan rezim politik yang lain”,[3] selalu didahului oleh krisis ekonomi yang menjadikan rezim politik lama kehilangan legitimasinya.

Menurut Huntington, kemampuan sejumlah besar pemerintah otoriter untuk memperoleh legitimasi dari pertumbuhan ekonomi terkikis oleh kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh pemerintah-pemerintah otoriter.[4] Lebih lanjut dikatakan perkembangan ekonomi yang cukup tinggi dan krisis ekonomi jangka pendek atau kegagalan ekonomi merupakan rumusan ekonomi yang paling mendukung bagi transisi sistem otoriter ke sistem demokratis.[5] Continue reading

SOSIOLOGI: PERTUKARAN SOSIAL

socexcPertukaran sosial (social exchange) adalah salah satu konsep mengenai proses sosial yang cukup mendasar. Sosiolog dan antropolog telah banyak membahas konsep ini, tetapi pembahasan yang cukup sistematis dilakukan pertama kalinya oleh Peter M. Blau dalam bukunya Exchange and Power in Social Life. Menurut Blau, pertukaran sosial adalah perilaku sosial individu secara sukarela yang didorong oleh keinginan untuk mendapatkan balasan dari pihak-pihak yang lain.

            Pengertian pertukaran sosial berdasarkan kepada anggapan-anggapan dalam pertukaran ekonomi tetapi konsep ini perlu dibedakan dari pertukaran yang semata-mata bercorak ekonomi. Pertukaran sosial berbeda dengan pertukaran ekonomi karena perkataan ini melibatkan respons dan jenis obligasi yang lebih samar (diffuse). Respons-respons itu tidak melibatkan proses tawar-menawar tetapi terserah kepada pihak-pihak yang memberinya. Continue reading

PENGANGGURAN MUSIMAN DAN DANA DESA

pengangguran-desa

Oleh: Enda Natakusumah

            Nawacita sebagai landasan pembangunan di Era Pemerintahan Jokowi-JK masih menjadi pertanyaan besar. Terutama, dana desa yang dikeluarkan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi belum sepenuhnya menyentuh masyarakat desa. Jika mengacu kepada Nawacita ala Jokowi, salah satu poin penting dari nawacita tersebut yaitu kesejahteraan (welfare) yang merupakan bahan pokok sebuah pembangunan ekonomi berkelanjutan. Program berkelanjutan baru menyentuh program pembangunan desa secara fisik, sedangkan di desa tidak hanya pembangunan infrastruktur (fisik) saja, melainkan program ekonomi lokal untuk mengentasan pengangguran musiman perlu ditingkatan. Continue reading

KELEKATAN HUBUNGAN (ATTACHMENT)

attachmentBowlby mendefinisikan attachment sebagai “degree of security an individual feels in interpersonal relationships”. Ia mengembangkan konsep tersebut dengan mendasarkan hasil studinya tentang relasi antara ibu dan bayi. Menurut Bowlby, kualitas interaksi antara ibu (atau pengasuh) dan bayi menentukan pola interaksinya pada masa anak-anak, remaja, dan dewasa (Oberlander, 2003 dalam Baron, Branscombe, dan Byrne, 2009). Diketahui pula bahwa pola interaksi seseorang cenderung konsisten dalam relasinya dengan orangtua, anak, teman dan pasangan romantis (Foltz, Barber, Weinryb, Morse, & Chittams, 1999, dalam Baron, Branscombe, dan Byrne, 2009).

            Bowlby (1969, 1973) menemukan bahwa seorang bayi memiliki dua sikap dasar dalam interaksinya dengan orang dewasa. Pertama, sikap terhadap diri sendiri yang disebut sebagai self esteem. Reaksi emosi dan perilaku pengasuh menjadi sumber informasi bagi bayi mengenai apakah dirinya dihargai dan dicintai, atau sebaliknya tidak dihargai dan tidak dicintai oleh orang lain. Continue reading