KEISLAMAN DALAM KELUASAN ILMU

hendar-riyadiOleh : Dr. Hendar Riyadi, Ketua STAIM Bandung, Email: hendarriyadi@ymail.com

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

(QS. Al-Hasyr/59: 18)

Education must shift into future tense” Alvin Tofler

Tidak ada yang menyangkal bahwa dalam 150 tahun terakhir ini telahterjadi perubahan yang luar biasa dalam sejarah peradaban umat manusia. Perubahan ini ditandai dengan hadirnya globalisasi, revolusi iptek terutama di bidang komunikasi, informasi, transportasi, genetika, penemuan arkeologis dan eksplorasi ruang angkasa, munculnya kesadaran yang meningkat tentang harkat dan martabat manusia, hubungan antar-agama yang semakin dekat, serta konsep negara-bangsa dan kesetaran gender.[1] Continue reading

ADAM SMITH’S EPISTEMOLOGY OF MORALITY

adam-smith

By: M. Taufiq Rahman

Economic liberalism was firstly developed by Adam Smith.[1] His ideas have been admitted as a sign of English Industrial Revolution. This liberal economic doctrine of Adam Smith was derived from the tradition of empiricism.[2] Smith blatantly denies rationalist view that reason is the only standard of morality and behavior.[3] He affirms that experience is one which can make moral laws.[4]

            It is also in economics; Smith takes it from human experience. Based on human journey of life, Smith says that all humans have a feeling of “self-love”[5] supporting of which everyone is like a salesman[6] and this is universal.[7]

The condition before Smith, i.e. from about 1500 until the 18th century, is the condition when Mercantilism was taking place in Western Europe. The main characteristics of this policy are state’s monopoly and regulation of trading and industry.[8] Continue reading

ANAK ADAM DI TANGAN SHARIATI

anakadamOleh: M. Taufiq Rahman

Anak-anak Nabi Adam As. yang permulaan, yaitu Qabil (Cain) dan Habil (Abel) menjadi sebuah teori sosial di tangan pemikir sosial dari Iran, Ali Shariati.

Pemikiran sosial Ali Shariati (1933-1977) dan teorinya adalah dialektis.[1] Pemikiran dialektis tersebut bahkan, menurutnya, menjadi ciri pemikir tercerahkan. “Para pemikir yang tercerahkan pada hari ini umumnya percaya bahwa ketika kontradiksi dialektis terjadi dalam struktur [matn] masyarakat, faktor kontradiksi ini dan pertarungan antara tesis dan anti-tesis mengimplikasikan masyarakat ke dalam gerakan dan menggambarkannya pada revolusi dan membawanya maju, membebaskannya, dan akhirnya, memasukkannya ke dalam tingkatan yang baru.”[2] Continue reading

THE PRINCIPLE OF LIBERTY IN JOHN RAWLS’S THOUGHT

Liberty-Tree-Obama-SCBy: M. Taufiq Rahman

This writing is about what sort of principles should be in a conception of justice, so that such principles can formulate a complete structure of society, in accordance with the basic idea of justice. These principles have been a comprehensive social ideal. Such principles as liberty, equality and solidarity have been traditional principles in the West. Therefore, the entrance of those principles into a conception of justice only means that those principles are aspects of a conception of justice, not as a solitary social ideal.[1]

Meaning of Liberty

Here we are not talking about liberty in the sense of liberalism, nor equality in the sense of communism and egalitarianism, not even solidarity in the sense of populism, whatsoever. Continue reading

FILSAFAT: ETIKA KERJA

etika kerjaOleh: M. Taufiq Rahman.

Bekerja merupakan keperluan yang niscaya bagi manusia. Karena, dengan bekerjalah manusia dapat memenuhi keperluan hidupnya, atau lebih jauhnya dapat mencapai kebahagiaan yang diinginkannya. Oleh karena itu, maka tak heranlah jika manusia disebut sebagai makhluk pekerja atau pencipta (homo creator).

Namun, bekerja pun bukanlah sekedar memenuhi hajat hidup saja. Bekerja adalah hal yang complicated yang menyangkut pula masalah ketuhanan dan aspek-aspek lainnya. Di sini coba dijelaskan tentang aspek-aspek yang menjadi maksud dan tujuan bekerja. Continue reading