STATUS DAN PERAN SOSIAL PESANTREN

eva-royandi

Oleh: Eva Royandi, S.Sos.

            Peranan pesantren di masa lalu kelihatan paling menonjol dalam hal menggerakan, memimpin, dan melakukan perjuangan dalam rangka mengusir penjajah. Muhammad Mansur Suryanegara, seorang pakar sejarah dari Universitas Padjadjaran Bandung pernah menyatakan bahwa sulit mencari gerakan melawan penjajah di Indonesia ini yang bukan digerakkan dan dipimpin oleh orang pesantren. Itu mudah dipahami karena orang pesantren adalah orang Islam yang imannya dapat diandalkan, iman cara Islam yang mereka miliki itu tidak dapat menerima adanya supremasi seseorang, golongan, atau bangsa atas orang, golongan atau bangsa lain. Penjajah, dalam bentuk apapun tidak dapat diterima dalam ajaran Islam (Tafsir, 2010: 192)

            Status pesantren sebagai lembaga pendidikan keagaman terus mengalami perkembangan dan memiliki peranan penting dalam kerajaan Islam dan masyarakat Indonesia. Continue reading

CARILAH ILMU DENGAN SEMANGAT

love of scienceOleh: M. Taufiq Rahman

Dalam pembukaan film ‘Destiny’ (1997), seorang murid Ibnu Rusydi (Averroes) dibakar oleh pihak Gereja. Namun sebelum dibakar ia sempat melemparkan manuskrip-manuskrip ilmu yang ia dapat dari Sang Filosof ke anaknya di tengah kerumunan orang. Sang anak kemudian lari, dikejar, tapi tak terkejar. Merasa tak aman, anak muda tersebut kemudian pergi ke Italia dan mengajarkan ilmu Sang Filosof di sana. Abad selanjutnya, Italia merayakan kebangkitan kembali (Renaissance).

Kisah sang pencari ilmu dan anaknya ini menunjukkan bahwa apabila sudah cinta ilmu, berbagai usaha dilakukan untuk menemui, menyapa, membelai, dan mereguk ilmu itu. Bahkan sampai dia berguru pada penganut agama lain, dikejar-kejar, dan dibakar. Lalu, apa sebetulnya yang membuat orang begitu mencintai ilmu? Kenapa pula manusia harus mencari dan mencintai ilmu? Continue reading

TUJUAN DAN FALSAFAH PESANTREN

P_20160305_172932Oleh: Mohamad Mustari, Ph.D.

Pada sudut etimologi, “pesantren” dan kata dasar “santri” berasal dari Bahasa Tamil yang bermakna “guru mengaji”. Sumber lain menyebutkan bahwa kata itu berasal dari Bahasa India “shastri” dari akar kata “shastra” yang bermakna “buku-buku suci”, “buku-buku agama”, atau “buku-buku tentang ilmu pengetahuan”. Di luar pulau Jawa institusi pendidikan ini disebut dengan nama lain, seperti surau (di Sumatra Barat), dayah (di Aceh), dan pondok (di daerah lain) (Ensiklopedi Islam, j. IV, 1994). Dalam penggunaannya di Indonesia hari ini dua istilah “pondok” (Arab: asrama atau hotel) dan “pesantren” seringkali dapat dipertukarkan penggunaannya, bahkan seringkali digabung menjadi “pondok pesantren” yang biasa disingkat menjadi “ponpes” (Mansurnoor, 1990). Continue reading

KARAKTER: PENGAMBIL RESIKO

pengambil resikoOleh: M. Taufiq Rahman

Di Belanda, pada zaman dahulu, air laut yang suka pasang dibentengi dengan tanggul yang dibuat dari susunan karung pasir. Apabila tanggul itu bocor, maka perkampungan berdekatan, bahkan sampai ke dalam daratan akan mengalami banjir yang tentu saja sangat merugikan.

Suatu petang, seorang anak sekolah yang bernama Hans melewati tanggul di pinggiran laut. Belum setengah perjalanan di sekitar tanggul itu, ia melihat ada air yang mengalir dari tengah tanggul, ketika dihampiri memang tanggul itu bocor. Ia pun ke sana ke mari mencari batu untuk menyumbat kebocoran itu. Tetapi di sana sini ia tidak mendapatkan batu yang diinginkan. Hari pun semakin gelap. Sementara pulang ke rumah sudah tidak mungkin lagi karena air sudah mulai tumpah. Keterlambatan menyumbat bisa berakibat fatal. Maka, ia pun, dengan berani, menyumpal tanggul bocor itu dengan tangannya. Continue reading

PENDIDIKAN: NASIONALISME

nasionalismeOleh: M. Taufiq Rahman

Sebelum diangkat menjadi Rasul, Musa pergi berjalan-jalan ke pasar Negeri Mesir. Di sana beliau melihat seorang Bani Israil lagi disiksa oleh bangsa Koptik (penduduk asli Mesir). Musa tak sampai hati melihat bangsanya disiksa, sehingga gelap mata dan dipukullah orang Koptik itu sehingga mati. Fir’aun (Raja Mesir) pun memerintahkan agar Musa ditangkap, tetapi beliau melarikan diri ke Madyan. Setelah diangkat menjadi Rasul, beliau datang lagi ke Mesir, untuk membela bangsanya yang terus-terusan dianiaya dan untuk mengajak Fir’aun agar kembali menyembah Tuhan YME. Setelah gagal usahanya berdakwah, bahkan Fir’aun berbalik akan membinasakan beliau dengan pengikutnya, maka dibawa hijrahlah Bani Israil itu dari Negeri Mesir, karena meskipun melawan namun tetap tidak ada harapan untuk menang. Kemudian pertolongan Tuhan pun tiba, dan hancur binasalah Fir’aun dengan pendukungnya di Laut Merah. Continue reading