KELEKATAN HUBUNGAN (ATTACHMENT)

attachmentBowlby mendefinisikan attachment sebagai “degree of security an individual feels in interpersonal relationships”. Ia mengembangkan konsep tersebut dengan mendasarkan hasil studinya tentang relasi antara ibu dan bayi. Menurut Bowlby, kualitas interaksi antara ibu (atau pengasuh) dan bayi menentukan pola interaksinya pada masa anak-anak, remaja, dan dewasa (Oberlander, 2003 dalam Baron, Branscombe, dan Byrne, 2009). Diketahui pula bahwa pola interaksi seseorang cenderung konsisten dalam relasinya dengan orangtua, anak, teman dan pasangan romantis (Foltz, Barber, Weinryb, Morse, & Chittams, 1999, dalam Baron, Branscombe, dan Byrne, 2009).

            Bowlby (1969, 1973) menemukan bahwa seorang bayi memiliki dua sikap dasar dalam interaksinya dengan orang dewasa. Pertama, sikap terhadap diri sendiri yang disebut sebagai self esteem. Reaksi emosi dan perilaku pengasuh menjadi sumber informasi bagi bayi mengenai apakah dirinya dihargai dan dicintai, atau sebaliknya tidak dihargai dan tidak dicintai oleh orang lain. Continue reading

RADIKALISME: ANTARA AGAMA, NEGARA, DAN MASYARAKAT

samuh-prof

Oleh: Asep S. Muhtadi, Guru Besar Komunikasi Politik UIN SGD Bandung.

Radikalisme, salah satunya, dapat dilihat dalam konteks hubungan politis antara agama dan negara. Radikalisme karenanya tidak dapat dipahami hanya dengan menganalisis perilaku keberagamaan seseorang atau sekelompok orang. Ia tidak bisa dilihat hanya dalam rentang hubungan teologis antara ajaran agama dengan para pemeluknya. Fenomena radikalisme agama dapat dianalisis dengan melibatkan berbagai variabel, seperti variabel sosial, politik, ekonomi, termasuk kebudayaan.

Karena itu, dalam perspektif peran negara dalam masyarakat beragama, peristiwa-peristiwa konflik antar pemeluk agama secara sederhana memperlihatkan telah gagalnya negara dalam menciptakan harmoni dan mencegah konflik. Padahal negara sendiri, seperti diungkapkan Thomas R. Dye (1988: 1), memang dibangun untuk tujuan mengelola konflik. Pemerintah menjadi aktor penting memelihara iklim harmoni dengan memberikan ruang demokratik bagi para pemeluk agama dan/atau keyakinan apapun. Pemerintah memiliki peran dan otoritas dalam melakukan kontrol atas berbagai faksi yang ada untuk tujuan memelihara suasana harmoni. Continue reading

HUBUNGAN INTERPERSONAL ATAU TRANSAKSI BISNIS?

soc exchangeHarold H. Kelley merupakan seorang ahli psikologi sosial dengan memfokuskan pada proses hubungan dan persepsi interpersonal dalam kelompok kecil. Bersama John Thibaut, Kelley memperkenalkan Teori Pertukaran Sosial. Penelitian Kelley dan Thibaut ini terutama mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan timbal baik.

Teori pertukaran sosial berasumsi bahwa kita dapat dengan teliti mengantisipasi pemberian imbalan dalam berbagai interaksi. Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi bisnis. Orang itu akan berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Continue reading

TEORI PSIKOLOGI: AGRESI

agresiTaylor, dkk (2009) mengartikan “agresi” sebagai tindakan yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain. Lebih lanjut diungkapkan bahwa agresi tersebut dapat dibedakan atas: (1) antisocial aggression, yaitu tindakan yang diniatkan untuk menyakiti orang atau pihak lain; (2) prosocial aggression, yaitu tindakan yang melanggar norma sosial namun dapat diterima umum; (3) sectioned aggression, yaitu tindakan agresi yang dapat dimaklumi dan diterima sesuai dengan norma kelompok sosial.

Pengertian agresi tersebut juga diungkapkan oleh Baron, dkk (2009), yang menyatakan bahwa agresi merupakan perilaku yang  ditujukan untuk menyakiti orang atau makhluk lain yang tidak ingin diperlakukan demikian. Kecenderungan niat untuk menyakiti orang lain tersebut dapat terjadi baik secara fisik maupun non fisik serta verbal. Continue reading

PSIKOLOGI: KETERGANTUNGAN PADA RELASI

love compassOleh: Maria Claudia

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki sifat saling ketergantungan dengan orang lain. Sifat inilah yang menjadi dasar penggunaan konsep ‘hubungan’ atau ‘relasi’ pada inti dari kehidupan manusia. Myers (2008) berpendapat bahwa pandangan Aristoteles mengenai manusia sebagai ‘the social animal’ disebut oleh para ahli psikologi sosial sebagai ”a need to belong”. Karakteristik perilaku individu dalam pemenuhan kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain berbeda-beda pada setiap tahapan perkembangan. Misalnya, pada masa kanak-kanak, pemenuhan kebutuhan berelasi dengan orang lain melalui bermain dengan teman sebaya yang berjenis kelamin sama, sedangkan setelah memasuki usia remaja, individu mulai berelasi dengan lawan jenis. Continue reading