BUKU ANTROPOLOGI PERDESAAN

Judul buku “Antropologi Perdesaan & Pembangunan Berkelanjutan”, penulis: Sidik Permana, S.Sos., M.I.L. ISBN : 602401594-7, penerbit Deepublish, Yogyakarta. Uk. B5 (17.5×25 cm) Hal : XVI + 207. Buku Antropologi Perdesaan dan Pembangunan Berkelanjutan ini memiliki topik yang menarik untuk dibahas. Berbagai kalangan masyarakat masih banyak yang memandang keliru bahwa kebudayaan dan gaya hidup tradisional yang masih mendominasi penduduk perdesaan dengan dilandasi kuat oleh pengetahuan ekologi tradisional tentang lingkungannya, serta memiliki modal sosial yang baik alih-alih dimanfaatkan malah diabaikan dan dianggap sebagai penghambat pembangunan. Buku ini sangat bermanfaat guna memberi wawasan pada masyarakat sebagai upaya memahami kebudayaan penduduk untuk dapat dimanfaatkan dalam berbagai program pembangunan……..”

SOSIOLOGI: PERTUKARAN SOSIAL

socexcPertukaran sosial (social exchange) adalah salah satu konsep mengenai proses sosial yang cukup mendasar. Sosiolog dan antropolog telah banyak membahas konsep ini, tetapi pembahasan yang cukup sistematis dilakukan pertama kalinya oleh Peter M. Blau dalam bukunya Exchange and Power in Social Life. Menurut Blau, pertukaran sosial adalah perilaku sosial individu secara sukarela yang didorong oleh keinginan untuk mendapatkan balasan dari pihak-pihak yang lain.

            Pengertian pertukaran sosial berdasarkan kepada anggapan-anggapan dalam pertukaran ekonomi tetapi konsep ini perlu dibedakan dari pertukaran yang semata-mata bercorak ekonomi. Pertukaran sosial berbeda dengan pertukaran ekonomi karena perkataan ini melibatkan respons dan jenis obligasi yang lebih samar (diffuse). Respons-respons itu tidak melibatkan proses tawar-menawar tetapi terserah kepada pihak-pihak yang memberinya. Continue reading

SELAYANG PANDANG COMMUNITY DEVELOPMENT

com-dev

Pembangunan menurut pengertian umum adalah suatu upaya terencana untuk merubah wilayah dan masyarakat menuju keadaan lebih baik. Dari tinjauan ilmu sosial, pembangunan diartikan perubahan masyarakat yang berlangsung secara terus menerus sehingga mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara optimal.  Strategi pembangunan berkembang dari masa ke masa secara dinamis sesuai dengan konteks peradaban.

Paradigma pembangunan yang menekankan pada pembangunan ekonomi mulai ditinggalkan karena tidak dapat menjawab masalah sosial seperti kemiskinan, kejahatan, kesenjangan, dan keterbelakangan. Paradigma pembangunan kemudian bergeser ke arah pendekatan masyarakat yang sebelumnya sebagai obyek pembangunan, sekarang menjadi subyek pembangunan. Continue reading

SOSIOLOGI: PERUBAHAN SOSIAL

social-change

Perubahan sosial berarti modifikasi atau perubahan institusi sosial atau pola-pola peran sosial. Yang ditekankan di sini adalah perubahan penting dalam perilaku sosial atau perubahan dalam sistem sosial yang lebih besar; bukan perubahan yang kecil dalam kelompok kecil. Jadi perubahan sosial merujuk kepada perubahan dari segi hubungan sosial yang ada, seperti dalam kehidupan keluarga, ekonomi atau agama.

            Tokoh sosiologi konservatif seperti Comte dan Spencer takut akan perubahan yang mendadak dan radikal. Mereka lebih suka perubahan yang bercorak evolusi, yang memakan waktu. Sebaliknya para pendukung revolusi cenderung kepada perubahan yang pesat, yang terjadi secara besar-besaran. Karl Marx menjadi tokoh sentral di sini. Continue reading

NUSANTARA SEBAGAI AJANG KONTESTASI PERADABAN

moeflich

Oleh: Moeflich Hasbullah

Jurusan SKI FAH UIN Sunan Gunung Djati

Salah satu penghampiran untuk memahami sejarah Asia Tenggara adalah melihatnya sebagai sebuah kawasan ‘pertarungan peradaban’ (fight of civilizations) dimana peradaban-peradaban besar dunia datang silih berganti dan saling berebut pengaruh didalamnya. Sejak awal sejarahnya, pengaruh India telah menancapkan hegemoninya berabad-abad[1] kemudian disusul kedatangan Cina, Islam dan Barat yang datang untuk kepentingan politik, ekonomi dan penyebaran agama.[2] Maka, muncullah beberapa pemenang yang produk historisnya yang bisa kita saksikan dewasa ini. Politik dimenangkan oleh Barat dengan sistem demokrasi yang dianut dan menjadi orientasi mayoritas negara-negara Asia Tenggara,[3] ekonomi dimenangkan oleh etnis Cina dengan fakta bahwa modal kapital atau kekuatan ekonomi berada pada kelompok minoritas Tionghoa,[4] dan agama dimenangkan oleh Islam dengan kenyataan sejak abad ke-17, mayoritas penduduk Asia Tenggara sudah memeluk Islam yang dewasa ini telah mencapai jumlah ±300 juta lebih (dengan ±200 juta berada di Indonesia), yang membuatnya sebagai kawasan Islam terbesar di muka bumi. Karena kontes peradaban tersebut, indianisasi, cinaisasi, Islamisasi dan baratisasi (westernisasi) kemudian dikenal sebagai proses-proses yang tak terpisahkan (inseperable) dari sejarah Asia Tenggara. Continue reading