IDENTITAS SEBAGAI GAYA

identitas-gaya

Oleh : Ahmad Susanto

Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi sosial menjadi hal yang sangat fundamen dalam membentuk prilaku seseorang. Interaksi sosial menjadi hal yang tak bisa dihindarkan dalam bermasyarakat baik secara Assosiatif maupun Disosiatif. Interaksi sosial itu meliputi interaksi dengan teman sekelas, teman seorganisasi dan bahkan interaksi dengan budaya lain, sehingga budaya itu masuk dan menggeser posisi budaya lokal. Budaya korea, budaya jepang, budaya barat dan timur merupakan budaya-budaya yang sering kita temukan pada masyarakat Indonesia. Mulai dari makanan, bahasa, pakaian bahkan gaya hidup.

Berlangungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai faktor yang salah satunya adalah proses Identifikasi. Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Continue reading

MEDIA SOSIAL SEBAGAI CANDU MASYARAKAT

sos-med

Oleh: Ahmad Susanto, Mahasiswa Sosiologi UIN SGD Bandung

 “Agama adalah candu masyarakat” Begitulah kira-kira ungkapan Marx mengenai agama dalam pandangannya. Perkembangan teknologi dan kebutuhan untuk menggunakanya semakin meningkat dalam masyarakat. Penggunaan Facebook, Instagram, Whatsapp, BBM dan media sosial yang lainnya merupakan salah satu bentuk perkembangan  teknologi. Penggunan ini, sejenis kebutuhan primer yg tidak bisa dinanti-nanti. Penggunanya akan resah, penasaran, jika tak membuka media sosial dalam waktu beberapa jam saja. Ini menjadi semacam candu baru, yaitu candu media sosial.

Tak hanya candu Agama dan Narkoba, candu Media Sosial sekarang ini menjadi fenomena baru dalam masyarakat modern. Candu seperti ini tentu tidak baik. Segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Kecanduan terhadap Media Sosial ternyata merubah sikap seseorang dalam lingkungan pergaulannya. Ia menjadi Individualis, sibuk sendiri dan apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Continue reading

GAYA HIDUP EKOLOGIS

ecology1

Oleh: M. Taufiq Rahman

Suatu hari seorang anak bertanya pada bapaknya, “Pak, kenapa bapak memelihara burung, kolam dan taman di rumah kita?” “Sebab bapak ingin kembali hidup bersama alam, nak, jadi kita bikin yang miniaturnya di rumah” kata sang Bapak. “Kenapa tidak yang alam besarnya aja Pak?” “Itulah nak, yang alam besar itu sudah banyak dirusak oleh manusia.”

Dialog di atas menyuguhkan kita akan betapa kasihannya manusia yang menginginkan kembali ke alam, tetapi tidak bisa, karena alam besar sudah rusak. Padahal, alam kecil yang di rumah itu pun hanya semata-mata “hiburan” palsu. Sebab, apa yang alam kecil tadi berikan kalau tidak hanya pandangan mata dan penyedap pendengaran telinga saja. Continue reading

MEMBUAT BUMI KECIL

33-fantasy-gardenKerja atau kuliah seharian, selama seminggu, memang membuat kita penat. Apalagi jika sehari-hari, pergi dan pulang, perjalanan kita disesaki kondisi lalu lintas yang kian hari kian parah. Ditambah lagi sektor pembangunan membuat udara serasa bercampur-campur antara asap dan tanah timbunan yang tercerai-berai angin. Seringkali ketika hari libur tiba, kita ingin ke luar kota, ke daerah-daerah pegunungan atau perkebunan. Tetapi kadang-kadang hal itu terhalang oleh kewajiban yang lain seperti shopping. Lalu bagaimana agar membuat otak kita fresh kembali? Buatlah bumi kecil di sekitar kita, itulah salah satu jawabannya.

Kleine Aarde, begitulah orang Belanda menyebut Bumi Kecil itu. Bumi kecil adalah seni lanskap mini di sekitar rumah kita. Continue reading

MENGAPA ROKOK ITU MEWAH?

puntungOleh: M. Taufiq Rahman

Penghubungan antara rokok dan gaya hidup sudah sangat lekat disuarakan oleh iklan. Bahwa rokok itu bergaya muda, bergaya sukses, bernuansa petualangan, bergaya gaul, dan sebagainya itu sudah merupakan suatu penekanan bahwa rokok itu barang mewah, dan kita bergaya apabila bersamanya.

Tentu saja apabila dibuat mahal adalah wajar. Karena rokok itu barang mewah tadi. Mewah itu luxury. Masa, yang luxurious itu murah? Tetapi bukan hanya itu saja yang bisa bikin rokok itu mahal. Continue reading