BOLIVIA (Bojong Limus via Al-Huda)

Oleh Ida Hidayatul Aliyah

 

Aku bergegas pada kerumunan teman-teman guru. “Siapa yang meninggal?” tanyaku saat terdengar dari kejauhan kata ”ngalayad” yang diobrolkan mereka.

Rakana Pak Deden, Bidan Nenah, kenal?”

“Ya,” aku mengiyakan untuk sementara untuk menyingkat pimbicaraan dengan damai, walaupun belum kenal, karena jika dikatakan tak kenal, tidaklah tepat tuk pancakaki.

            “Barudak tos dipasihan tugas? Hayu angkat!” Wakil kepala sekolah mengomando. Continue reading

Facebook Comments

KISAH HC DAN UD

Oleh: Fathan Tibyan Rahman

(Pelajar SMA PLUS AL-GHIFARI)

Pada suatu hari di sekolah menengah atas, HC siswa yang tinggi, berkulit terang dan berambut merah itu sedang mengobrol dengan teman sebayanya, obrolan mereka itu bisa dibilang bervariasi, awalnya tentang Televisi kemudian J-Pop kemudian Anime sampai akhirnya President. HC sangat senang dengan ini, bukan hanya dia di perkuat oleh bersosialisasi tetapi juga betapa puasnya dia mengobrol tentang hal-hal yang menarik.

Saat guru sejarah datang, semua siswa langsung duduk. Lalu HC mendengarkan dengan seksama tentang penjelasan gurunya, melajutkan untuk belajar dengan teman-temannya, memikirkan bahwa mungkin adiknya juga sedang merasakan hari yang indah ini Continue reading

Facebook Comments

PEREMPUAN DAN GERIMIS

Siang kemarin gerimis. Seorang perempuan duduk di bangku panjang sebuah taman, mendekap handphone yang dari kejauhan saja kita bisa menebaknya, tema pembicaan kemungkinan besar adalah cinta. Sebab wajahnya gelisah. Meski wajahnya kulihat tak lagi muda tapi kegelisahannya itu indah. Dan apa lagi yang membuat bisa indah selain cinta? Wajahnya sesekali tengadah ke langit, seperti cemas, mungkin takut kehujanan, tapi tak kunjung beranjak. Malah senyum seperti penuh harapan. Indah betul, di tengah gerimis pula. Aku memotretnya!

Tapi aku tahu perempuan itu memiliki dan telah dimiliki cinta. Waktu halal bil halal bulan-bulan lalu, dia didampingi suami lengkap dengan anaknya yang kucu-lucu. Hanya…masa aku langsung melabrak orang yang tak dekat denganku berdasarkan dugaan-dugaan? Apa kata dunia atas intervensi urusan orang?! Terutama karena masih praduga. Continue reading

Facebook Comments

TARIAN DI BAWAH BULAN

“Ga ada suguhan buat kamu…”

“Aku bukan arwah yang harus dikasih sesajen”
“Selain musik ini… ayo, mau ngopy sendiri ke flashdisk ato dibluetooth?” Dan ternyata kedua cara tersebut kulakukan. Ya dibluetooth ke hpku, ya flasdisk tuk notebookku. Dia, adikku, ternyata masih ingat kesukaanku pada musik itu, juga camilan favoritku yang katanya ga ada suguhan buat aku. Musik itu selalu menemaniku saat kerja di kantor, di rumah, dari menjelang tidur sampai begitu bangun tidur. Moon dance, Kitaro.
Saat kecil aku suka bulan. Masa kecilku yang pisah tinggal dengan orang tua karena aku beradik banyak membuatku lebih membayangkan di bulan itu ada bidadari tanpa kerepotan punya banyak anak karena di bulan dijamin Tuhan tuk bahagia. Continue reading

Facebook Comments

KACA YANG TERGORES

Entah kenapa, barusan di persimpangan jalan waktu aku berpapasan dengan temen almarhum papa, kali ini kok terbayang satu kelakar mereka yang membuat mama marah.

Teu kabayangkeun mun sayah ta’adud, kumaha ngimahanana? Nu aya ge imah teh can lunas ti mimiti meuli tanah, ngawangun, mager, ngaluis…hih teu anggeus-anggeus!” kudengar itu yang dirumpiin papa dengan teman-temannya sambil ngopi saat aku dipanggilnya tuk membawa asbak, dan setelah kumpulan bubar, mama marah!

“Tak beradab!” itu kata-kata khas mama jika marah besar. Mama selalu marah jika papa merokok di dalam rumah (makanya tak pernah disediakan asbak) tapi menurutku teman-teman papa yang tak beradab itu. Tau ga ada asbak dan sama si bungsu ditempel poster “dilarang merokok dalam ruangan ini” tetap aja mereka melenyun dan waktu itu papa yang biasa takut sama mama (hahaha) jadi terseret arus! Continue reading

Facebook Comments