UNTUKMU

                Aku menimang buku –novel—setebal 400 an halaman itu. Kusebut buku karena bentuknya tidak seperti kemasan novel yang 20 centi-an. Ini lebih tinggi, lebih tebal. Orang akan menyangka buku tersebut jurnal ilmiah andai saja tidak ada tulisan di cover “novel filsafat”.

“Ini akan kuberikan untukmu,” kataku memasukkan novel itu ke dalam tas yang akan kubawa. Mungkin akan cocok buatmu, ga kayak aku yang pusing membacanya dan ga tamat-tamat. Aku cuma tertarik buku itu karena 20 tahun lalu waktu masih kuliah, judul buku itu disebut-sebut seniorku yang sekarang menjadi dosen filsafat. Tahun kemaren aku temukan buku itu. Buku yang telah berumur dengan kertas yang telah menguning kubeli tanpa proses tawar-menawar karena aku menghormati buku tersebut dan menganggapnya artefak yang baru ditemukan sejarawan. Continue reading